Sabtu, 14 Agustus 2010

Perjalanan musik rock di indonesia

Bentang Kontroversi hampir selalu menyertai sejarah awal mula kehadiran musik rock di Indonesia. Apakah pertama kali masuk dalam aransemen lagu-lagu berbahasa Minang yang dilakukan Nuskan Syarif dan Zaenal Arifin pertengahan tahun '50-an? Atau saat Rhoma Irama memasukkan unsur rock dalam lagu dangdutnya tahun 1976 pada lagu Begadang? Semua masih perlu diperdebatkan.

Musik barat sudah menjadi kiblat industri musik ketika masih embrio. Dimulai pemerintah penjajah Belanda, yang membawa musik jazz setelah menjejakkan kakinya di bumi Nusantara dengan bendera VOC sebagai sarana hiburan bagi para serdadu dan kerabatnya. Pada awal tahun 1900-an, lahir sebuah perusahaan rekaman di Surabaya yang memproduksi piringan hitam lagu-lagu jazz untuk kalangan terbatas.

Surabaya menjadi basis lahirnya musisi rock tangguh. Bisa dikatakan hampir semua pemusik kota buaya ini pernah memainkan musik rock. Penabuh drum jazz, Abdul Karim Suweileh, pertengahan tahun 1960-an bergabung dengan Harry Dharsono dalam grup Batara yang membawakan lagu-lagu The Beatles, Grandfunk Railroad, The Rolling Stones. Sementara almarhum Udin Zach, peniup saxophone yang memimpin grup jazz Bhaskara ke North Sea Jazz Festival di Den Haag, Belanda, sempat menjadi gitaris rock Arista Birawa dengan penyanyi Mus Mulyadi yang sampai sekarang masih fasih membawakan lagu-lagu kroncong.

Namun politik menentukan lain. Usaha Bung Karno melestarikan kebudayaan bangsa sah-sah saja sebenarnya, tapi larangannya terhadap musik rock n roll yang disebutnya musik ngak ngik ngok menjadi aneh di telinga kita sekarang. Akibatnya, musisi kita berlenso-ria. Jack Lesmana, ayah Indra Lesmana menghasilkan musik lenso untuk mengiringi Bung Karno berdansa. Sementara Koes bersaudara dimasukkan ke dalam bui karena tidak kapok-kapoknya membawakan lagu-lagu The Beatles di panggung pesta.

Setelah lepas dari bui, Tony Koeswoyo dan tiga adiknya Nomo, Yon, dan Yok menghasilkan album yang berisi lagu-lagu rock To The So Called The Guilties yang diantaranya berisi lagu-lagu "Voorman", "Three Little Words", "Di Dalam Bui".

Eka Sapta yang terdiri dari Bing Slamet (bongo, konga), Ireng Maulana (gitar pengiring), Idris Sardi (bass, biola), Itje Kumaunang (gitar melodi), Benny Mustafa (drum), Dharmono (vibraphone), dan Kamid (konga) adalah band pengiring nomor satu di tahun 1960-an. Mereka memainkan lagu-lagu instrumental dengan gaya rock n roll The Shadows dan The Ventures. Sebelumnya, Eka Sapta juga berlenso-ria.

Peralihan politik dari orde lama ke orde baru pada tahun 1965 juga mempengaruhi perkembangan musik rock di Indonesia. Mahasiswa yang punya andil menggantikan pimpinan negara berusaha berkomunikasi dengan masyarakat melalui Radio Arief Rachman Hakim, yang diikuti dengan lahirnya radio-radio amatir yang siarannya khas remaja dan memutar lagu-lagu The Beatles, Elvis Presley, dan The Rolling Stones. Mick Jagger yang sempat manggung di Stadion Utama Senayan, memberi pengaruh sangat kuat pada musisi kita, antara lain Deddy Stanzah, pendiri grup Rollies, dan tentu saja Cikini Stones Complex yang membawakan lagu-lagu The Rolling Stones, baru diganti lagu-lagu ciptaan sendiri, seperti "Mawar Merah", "Maafkan", "Memang", "Kamu Harus Pulang", "I Miss U But I Hate U", dan lagu lainnya setelah menjadi Slank pada tahun 1983.

Munculnya Deep Purple tahun 1968 disusul berdirinya Led Zeppelin yang berbarengan dengan terbitnya majalah musik Aktuil tahun 1969, secara langsung membentuk wajah musik rock Indonesia.

Sementara perusahaan rekaman lagu barat yang masih bebas membajak, menjejali konsumen musik dengan berbagai kaset musik rock. Tak heran jika lagu-lagu "Stormbringer", "Child In Time", "Burn", "Highway Star", "Hush", "Black Night", "Speed King", "Fireball" dan belasan lagu lainnya menjadi sedemikian populer. Lagu-lagu itulah yang antara lain membakar Stadion Utama Senayan, 4 dan 5 Desember 1975. Grup rock yang pertama menjejakkan kakinya di Indonesia itu membuka pergelarannya dengan memainkan sebagian lagu "Burung Kakak Tua". Denny Sabri dan Aktuil mendatangkan Deep Purple bekerja sama dengan Peter Basuki, Promotor Buena Production. Denny Sabri menunjuk God Bless sebagai band pembuka. Ini menjadi prestasi sendiri bagi God Bless yang beru merilis album "Huma Di Atas Bukit" (1975).

Denny Sabri juga dikenal sebagai pencari bakat. Dia berhasil mengorbitkan Sylvia Sartje sebagai lady rockernya yang pertama. Sedangkan untuk grup adalah antara lain Superkid tahun 1976 dan terdiri dari Deddy Stanzah, Jelly Tobing, dan Dedy Dores. Superkid menghasilkan dua album rekaman, "Superkid" (1977), dan "Dezember Break" (1978).

Denny Sabri yang tutup usia pada Sabtu, 29 November 2003 dalam usia 55 tahun, meninggalkan cukup banyak warisan bagi industi musik Indonesia. Yang masih dikenal hingga kini antara lain adalah penyanyi Mel Shandy, Nicky Astria, Nafa Urbach, almarhumah Nike Ardila, almarhum Farid Harja, Bintang film Meriem Bellina, Nurul Arifin, pencipta lagu Harry Tasman, dan foto model Sandy Harun. Jamrud juga merasakan bimbingan Denny Sabri ketika masih bernama Jam Rock.

Larangan yang diberlakukan pemerintah Orde Lama pertengahan tahun 1960-an tidak menyurutkan grup Jazz Varia Nada, Irama Jangger, atau Bhineka Ria yang terdiri dari Lody Item (ayah Jopie Item atau kakek penyanyi Audy), Awat Suweilweh, serta Didi Pattirani memainkan musik rock di Surabaya.

AKA (Apotik Kali Asin), adalah grup rock paling heboh. Mereka berlatih di belakang apotik milik orang tua Utjok Harahap membawakan lagu-lagu Eric Clapton, The Rolling Stones atau Jimi Hendrix seperti "Purple Haze", "Hey Joe" hingga mereka dianggap menjadi sebuah revolusi dalam bermusik, dan dinobatkan sebagai grup underground. Tapi yang membuat heboh adalah tiang gantungan dan peti mati yang diusung di atas panggung. Dengan musik ala Grandfunk Railroad, Deep Purple, dan Black Sabbath, AKA merilis album pertama "Do What You Like?" tahun 1970 dengan tiga lagu keras "Do What You Like", "I've Gotta Work It Out", dan "Glennmore" di samping lagu pop berlirik Indonesia "Akhir Kisah Sedih" dan "Akhir Bulan Lima".

Surabaya tentu saja bukan hanya AKA. Sebelum Boomerang, Padi, dan Dewa19 masuk orbit, ada deretan nama Yeah Yeah Boys, Lemon Tree's, D' Gembels, Gombloh, Pretty Sisters atau Ita Purnamasari. Pretty Sisters menjuarai Festival Band Wanita se-Indonesia tahun 1975.

Dari sejumlah grup dari kota buaya itu, tidak dapat disangkal bahwa AKA memberi pengaruh paling besar. Beberapa grup mengikuti jejak dan ke-esentrikan Utjok, misalnya Micky Mekelbach dari grup Bentoel, Malang. Media massa mengorbitkan Micky sebagai Alice Cooper Indonesia. Namun perjalanan karier dan hidupnya tidak begitu panjang. Dia meninggal 9 Mei 1987 dalam usia 38 tahun di kediamannya di Sukabumi. Overdosis.

Sementara itu Utjok sibuk di luar AKA, seperti membuat Duo Kribo dengan Ahmad Albar tahun 1978, tiga personil tersisa yaitu Sonatha Tanjung, Arthur Kaunang, dan Syech Abidin mendirikan SAS. Trio ini produktif dalam menghasilkan lagu-lagu, diantaranya "Baby Rock", "Metal Baja", "Larantuka", dan "Sirkuit".

Medan juga punya seorang pemusik yang sensasional, Jelly Yusuf Tobing. Sepak terjang Jelly tidak hanya di Medan dan Jakarta, tetapi juga di Bandung dengan bergabung ke Giant Step dan Superkid. Tahun 1973 Fadil Usman, adik kandung penyanyi Ivo Nilakresna, mengajajak Jelly ke Medan. Minstrel's berdiri dengan Jelly Tobing sebagai drumer dan vokal, Fadil Usman (gitar), Kris Hutabarat (saksofon, vokal), Iqbal Mustafa (keyboard), dan Mamad (bass). Ketika itu sudah ada grup The Great Session dan Rhythm Kings, yang mula-mula mengandalkan lagu-lagu cadas di panggung, berubah menjadi manis begitu masuk rekaman. Sebagai gitaris Minstrel's, Fadil Usman bisa dikatakan yang pertama membawakan lagu-lagu Jimi Hendrix.

Minstrel's menjadi saingan berat Rhythm Kings dan The Great Session. Rizaldi Siagian (penabuh drum The Great Session) yang merupakan drumer terbaik di Medan, begitu Jelly Tobing datang, keduanya berusaha saling mengalahkan. Pertemuan ketiga grup itu di atas panggung juga melibatkan persaingan sesama teknisi dan emosi penonton. Kabel soundsystem bisa ditemukan putus sehingga gitar atau suara penyanyi tidak kedengaran. Penonton saling mengejek grup musik yang dianggap saingan. Kalau perlu tawuran.

Namun menjelang akhir 1970-an, segala kesemarakan itu menyurut. Bukan saja karena banyaknya pemusik yang hijrah ke Jakarta, pertumbuhan penyanyi dan grup baru nyaris tidak terlihat. The Mercy's yang sukses besar di Jakarta enggan kembali ke Medan. Begitu juga anggota Minstrel's seperti Fadil Usman dan Jelly Tobing memilih tinggal di Jakarta. Fadil Usman mendirikan Brotherhood, tapi tidak bertahan lama. Tahun 1979 dia bergabung dengan Reynold Panggabean dan Camelia Malik seabagai gitaris dangdut jazz-rock Tarantula.

Kota kembang Bandung adalah taman subur bagi kuncup-kuncup grup musik seperti Rollies, Freedom Of Rhapsodia, Giant Step, Savoy Rythm, C'Blues, Memphis, Gang of Philosophy Harry Roesli, Trio Bimbo, 23761 Remy Saylado, serta sederetan nama lainnya.

Lagu dari Rollies "Kemarau" karya pemetik bassnya Utje F Tekol, memperoleh penghargaan Kalpataru dari Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim tahun 1979. Tahun 1974, Rollies yang terdiri; Bonnie (gitar, vokal), Iskandar (tenor saksofon), Benny Likumahua (bariton/alto saksofon, flute, trombon), Delly (keyboard, vokal), Utje F Tekol (bass), Didit Maruto (trompet), Jimmy Manopo (drum), dan Gito (vokal). Dengan formasi inilah Rollies disebut sebagai Chicago van Bandung, karena lagu-lagu grup brass-rock asal Amerika tersebut sering dimainkan di atas panggung.

Giant step memang tidak sebesar Rollies atau God Bless. Tapi grup yang dikomandani Benny Subarja ini membawakan lagu-lagu ciptaannya sendiri ketika band-band rock lainnya mengandalkan lagu-lagu The Beatles, The Rolling Stones, Grandfunk Railroad, Deep Purple, Black Sabbath, atau grup rock mancanegara lainnya. Namun sebagai penyanyi solo, Benny Subarja melesat lewat lagu "Apatis" ciptaan Ingrid Wijanarko hasil LCLR (Lomba Cipta Lagu Remaja) Prambors 1978, bersama dengan lagu "Sepercik Air" yang dinyanyikan dan diciptakan oleh almarhum Deddy Stanzah.

Rock Opera Ken Arok Harry Roesli yang digelar di Gedung Merdeka, Bandung, 12 April 1975, dan Balai Sidang Jakarta, 2 Agustus 1975, merupakan warisan berharga dalam musik rock tanah air, walaupun pergaulannya dengan musik dan musisi rock sangat dekat, Harry Roesli sendiri tidak pernah disebut sebagai rocker. Selama kariernya, dia mampu 'berdamai' dengan industri dan tak kurang dari 25 judul album dirampungkannya, antara lain : "Philosophy In Rock" (1971), "Ken Arok" (1977), dan "Kuda Rock n Roll" (1986). Harry Roesli meninggal dunia pada Sabtu, 11 Desember 2004, pukul 19:55, di RS Jantung Harapan Kita, pada usia 53 tahun.

Pasca Dara Puspita, bermunculan banyak grup dan penyanyi perempuan seperti Euis Darliah, Rose Kusumadewi, Sylvia Sartje, Reny Djajusman, Titiek Hamzah, Iwot Husein, Cut Irna, Atiek CB, serta Lies Saodah dengan grup dangdut-rocknya, Helista. Dari semua rocker perempuan itu, langkah Euis Darliah yang paling panjang. Setelah grupnya Antique Clique bubar, Euis menyanyi sendiri. Dari sinilah lahir lagunya yang paling populer, "Apanya Dong" ciptaan Titiek Puspa.

Usai era Euis, muncul Nicky Astria. Dan tentu saja Anggun C Sasmi yang mengawali karier sebagai rocker harapan industri musik. Tapi setelah tinggal di Paris dan menghasilkan album-album rekaman internasional tidak lagi disebut sebagai rocker. Nike ardilla lain lagi. Lagu-lagu pop-rock karya Deddy Dores yang dinyanyikannya, "Seberkas Sinar", "Bintang Kehidupan terus diburu konsumen musik bertahun-tahun setelah penyanyi ini meninggal dalam usia muda, 19 Maret 1995.

Achmad Albar, pria kelahiran Surabaya, 16 Juli 1946 ini bisa dibilang sebagai ikon musik rock Indonesia yang menjadi pemicu berdirinya God Bless. Pria yang memiliki nama panggilan Iye ini sudah malang melintang di Jakarta dengan membentuk beberapa band. Salah satunya dengan Titi Qadarsih, ibu dari Indra Q, mantan personil Slank yang kini memperkuat BIP, dengan membentuk Kuarta Nada. Lalu tahun 1965 dia merantau ke Belanda untuk mengikuti sekolah Musik di Bergen OP Zoon, mengambil jurusan gitar klasik. Saat di sekolah itu, Albar membentuk Take Five.

Band ini tanpa sebab yang jelas bubar, sehingga Albar mendirikan Clover Leaf dan sempat mengeluarkan album yang melejitkan single "Don't Spoil My Day" dan "Grey Clouds" pada tahun 1972. Tahun 1973 bersama gitaris Clover Leaf, Ludwig Lemans, Albar pulang ke Indonesia. Ada kerinduan untuk kembali membentuk band dengan beberapa musisi yang kemudian diajaknya mengadakan workshop. Mereka berdua bertemu dengan Donny Fatah (bass), Fuad Hasan (drum), dan Deddy Dores (keyboard). Mereka inilah formasi pertama bagi cikal bakal God Bless.

Saat itu mereka berkumpul dan masih memakai nama Clover Leaf untuk tampil di sebuah acara yang bernama 'Summer "28' yang berlangsung di Ragunan. Summer "28 sendiri adalah sebuah acara musik di alam terbuka pertama di Indonesia yang diikuti belasan grup musik. Acara berlangsung pada 1973 atas prakarsa sutradara kawakan Wim Umboh dan Nyoo Hang Siang. Saat itu, God Bless yang masih bernama Clover Leaf, membawakan lagu-lagu dari Deep Purple, Kansas, King Ping Meh, James Gang, dan ELP. Lagu sendiri dari mereka yang dibawakan adalah "She Passed Away" ciptaan Donny Fatah.

God Bless sendiri akhirnya baru diresmikan pada 5 Mei 1973, ketika pertama kali tampil di Teater Terbuka TIM bersama Gypsi. Saat tampil Di TIM ini pula terjadi pergantian line up band. Deddy Dores mengundurkan diri digantikan oleh Jockie Soeryoprayogo. Periode antara 1973 sampai 1974, God Bless banyak mengalami pergantian personil. Tercatat sejak Ludwig Lemans kembali ke Belanda, Deddy Dores masuk sebagai gitaris dan Soman Lubis sebagai pengganti Jockie. Uniknya, saat Soman Lubis absen karena harus ujian akhir, masuk nama Deddy Stanzah. Posisi pun berubah, Deddy Dores memainkan keyboard, Deddy Stanzah pada bass, dan Donny Fatah menjadi gitaris.

Duka menyelimuti God Bless pada bulan Juni 1974, saat Fuad Hasan dan Soman Lubis meninggal dalam sebuah kecelakaan. Ini membuat Achmad Albar dan Donny Fatah limbung. Untunglah mereka dapat mengajak Nasution bersaudara untuk bergabung, walau cuma sebentar. Jockie kembali masuk ke posisi awal sebagai pemain keyboard. Sementara drum diisi oleh Teddy Sujaya. Kejadian paling penting adalah saat Ian Antono yang pernah tergabung dalam band Abadi Soesman dan Bentoel masuk sebagai gitaris God Bless.

Formasi yang dianggap paling solid dan tepat dalam keemasan God Bless, saat Albar, Ian, Teddy, Donny, dan Jockie melahirkan debut album "God Bless" yang juga dikenal sebagai album "Huma Di Atas Bukit". Lagu "Huma Di Atas Bukit" yang waktu itu menjadi theme song film Layla Majenun membuat popularitas God Bless makin meluas. Selain melahirkan hits "Huma Di Atas Bukit" yang merupakan adaptasi lagu Genesis dan berhasil diberi lirik oleh almarhum Sjumandjaya, juga ada lagu "Rock Di Udara", "Sesat", "Setan Tertawa", "she Passed Away", serta lagu dari The Beatles "Eleanor Rigby", dan "Friday On My Mind" dari Easy Beat.

Album yang direkam di Studio Tri Angkasa ini tidak berlebihan jika menjadi sebuah cetak biru bagi generasi musik rock Indonesia. Landscape musik rock Indonesia mulai terciptakan dengan adanya God Bless lewat album monumental ini. Saat itu, almarhum Denny Sabri, wartawan majalah musik Aktuil, majalah musik terkemuka saat itu, berhasil mendapatkan kontak untuk mendatangkan Deep Purple ke Indonesia, dan menunjuk God Bless Sebagai band pembuka.

Jockie Soeryoprayogo yang terus berperan dalam industri panggung dan rekaman bersama Kantata Takwa, Swami dan Dalbo, mementaskan Rock Opera Indonesia, di Jakarta Convention Center, 20 Agustus 2002. Sejak Kantata hingga rock operanya, Jockie membina kerja samanya dengan Iwan Fals, yang sebagaimana Harry Roesli, Iwan Fals tidak pernah disebut sebagai rocker, tapi elemen-elemen rock berputar di semua karya-karyanya.

Ong Oen Log alias Log Zhelebour bisa dikatakan sebagai rocker sejati dalam industri musik rock Indonesia. Dibanding Festival Lagu Pop Nasional, atau Lomba Cipta Lagu Remaja yang diadakan radio Prambors yang melahirkan sejumlah penyanyi kita antara lain Chrisye, ternyata festival musik Rock versi Log Zhelebour yang paling tahan banting. Log juga mendirikan Logiss, satu-satunya perusahaan rekaman yang hanya memproduksi penyanyi dan grup rock Indonesia, seperti Mel Shandy, Nicky Astria, God Bless, serta para jawara festivalnya.

Festival musik rock yang diadakan Log Zhelebour dikenal sebagai Djarum Super Rock Festival. Karena perusahaan rokok itu mendanainya sebanyak delapan kali (1984, 1985, 1986, 1987, 1989, 1993, 2001, 2004) dari 10 penyelenggaraannya dengan diselingi Gudang Garam (1991) dan stasiun televisi Indosiar (1996). Festival rock se Indonesia pertama yang diadakan di lapangan sepak bola 10 November, Tambaksari, Surabaya, hari Minggu 14 April 1984. Harley angles dari Bali terpilih sebagai juara pertama, LCC (Surabaya, juara dua), Elpamas (Pandaan, juara tiga), 2nd Smile (Jakarta, juara harapan), dan Drop Out (Irian Jaya, juara favorit).

Yang kedua (1985) dijuarai grup rock asal Pandaan, Malang, Elpamas. Tiga grup rock asal Surabaya berturut selama tiga kali festival mendominasi juara; Grass Rock (1986), Adi Metal Rock Band (1987), dan Power Metal (1989). Pada festival ketiga tahun 1986, anggota grup rock Slank pernah ikut lomba, dan masuk final. Tapi hanya berhasil menjadi juara hiburan. Saat itu mereka belum menggunakan nama Slank.

Tahun 1989, Roxx khusus diundang oleh Log Zhelebour untuk tampil mewakili Jakarta pada festival yang digelarnya. Di festival itu, Roxx berhasil menjadi juara kedua, di bawah Power Metal. Gosip berhembus, bahwa menurut pilihan para juri, sebenarnya Roxx yang seharusnya terpilih sebagai juara pertama, namun kabarnya Log tidak setuju dan memveto keputusan tersebut.

Usai memenangkan kompetisi rock bergengsi tersebut, Roxx segera masuk studio rekaman Tripel M Jakarta untuk merekam single pertama dalam karier profesional mereka, "Rock Bergema". Single tersebut bersama dengan sembilan single lainnya dari Power Metal dan Kaisar kemudian di tahun 1990 rilis sebagai album kompilasi pertama keluaran Logiss Records. Jika dibandingkan, "Rock Bergema" versi album ini masih kental nuansa glam-rock '80-an (simak teriakan Trison!). Cukup berbeda dengan versi di album Roxx yang jauh lebih moderen dan metal.

Festival selanjutnya diadakan tiga tahun kemudian, 1991, semifinal diadakan di Malang, dan final di Surabaya. Kaisar dari Solo menjadi yang terbaik. Pada festival yang ketujuh, 1993, Andromeda Rock Band dari Surabaya meraih juara dengan drumernya, Yoyo, yang sekarang menjadi drumer band Padi.

Tahun 1996, juaranya adalah Teaser asal Temanggung. Kondisi ekonomi, politik, dan sosial negara menyebabkan festival ini vakum selama lima tahun. Baru tahun 2001 yang festival diawali dengan menjaring grup-grup dari setiap propinsi diadakan. Dari 10 finalis yang masuk final, juaranya U9 dari Kediri. Dengan sistem yang sama, festival kembali digelar untuk yang ke 10 kalinya. Mujizat Band dari Bandung menjadi juara 1, Take Over (Banten, juara 2), LoeJoe (Makasar, juara 3), Mr. X (Banjarmasin, juara harapan), Daun Band (Kediri, juara favorit), dan Kobe (Sidoarjo, penampil terbaik).

Festival ini ditorehkan dalam sejarah musik rock indonesia. Bagi peserta yang luput masuk final atau gagal menjadi juara, tidak menyurut semangat. Malah banyak yang sukses dalam industri musik, salah satunya Jam Rock (yang sekarang dikenal dengan nama Jamrud, dan Los Angels (cikal bakal Boomerang).

Setelah beberapa kali berganti personil, tahun 1995 Jamrud mulai membuat lagu sendiri dan menghasilkan tujuh album "Nekad" (1996), "Putri" (1997), "Terima Kasih" (1998), "Ningrat" (2000), "Sydney 090102" (2002), "Gak Cabul Lagi BO 18+" (2004), "All Acess In Love" (2006), dan dua album kompilasi terbaiknya.

Cerita terbentuknya Boomerang ternyata tidak jauh berbeda dengan band kebanyakan. Pada awal tahun '90-an, Hubert Henry Limahelu (bass), John Paul Ivan (gitar), Roy Jeconiah Isoka Wurangian (vokal), dan Petrus Augusti (drum) mendirikan Lost Angels, sebuah permainan kata dari sebuah nama kota di Amerika Los Angeles dan sekaligus berarti malaikat tersesat. Dari awal berdiri, grup ini tidak mau membawakan lagu milik orang lain. Mereka bertekad untuk terus menggeber lagu sendiri di mana saja dan kapan saja.

Tidak sampai setahun, Lost Angels sudah berani untuk ikut festival rock se Indonesia ke 7 yang diadakan Log Zhelebour pada tahun 1993. Lost Angels langsung masuk 10 besar finalis, tetapi hanya pada urutan keenam, dan berhak untuk merekam satu lagu yang akan dimasukkan ke dalam album "10 Finalis Festival Rock ke-7 Log Zhelebour. Saat itu Lost Angels merekam lagu "No More". Lost Angels diminta menjadi band pembuka tur Gong 2000 di Sulawesi Selatan.

Biar sudah menjadi finalis, bahkan sudah rekaman satu lagu, tetap saja mereka harus jungkir balik merayu Log Zhelebour untuk minta dibuatkan sebuah album solo. Kesabaran arek-arek Suroboyo ini benar-benar diuji. karena demo pertama yang mereka tawarkan langsung ditolak mentah-mentah. Tidak putus harapan, mereka ke Jakarta dan menawarkan demo pada beberapa perusahaan rekaman yang ada. Sempat pula dibantu oleh Indra Q (mantan personil Slank), tetapi nihil. Merasa bertepuk sebelah tangan, mereka kembali 'menghadap' Log Zhelebour. kegigihan dan kesabaran berbuah manis. Log mau menerima demo yang mereka tawarkan dengan syarat harus membuat master rekaman komplit satu album, baru setelah itu mereka bisa menandatangani kontrak.

Tahun 1994 mereka direkrut oleh perusahaan rekaman Loggis Records. Bulan Maret - April 1994, di studio Nirwana, Surabaya, mereka bekerja hampir 18 jam setiap harinya untuk merekam album perdana. Setelah selesai dengan proses rekaman dan menunggu pembuatan cover Kaset, mereka terpaksa memecat Petrus Augusti (drum) karena sudah tidak sejalan dengan tujuan idealisme semula. Pada 8 Mei 1994, mereka sepakat untuk mengganti nama Lost Angels menjadi Boomerang, yang juga menjadi nama album perdana yang rilis di pasaran pada 1 Juli 1994 dengan single hits "Kasih". Oleh karena itu pada video klip "Kasih" mereka tampil bertiga. Untuk mengisi kekosongan drumer pada saat harus melakukan tur dan konser, mereka merekrut Farid Martin yang dikenal dari seorang sound engineer album pertama dan kedua Boomerang, Toni. Pada 1 Januari 1995 Farid resmi menjadi drumer tetap Boomerang.

Dengan formasi Roy (vokal), Jhon (gitar), Henry (bass), dan Farid (drum), Boomerang mengeluarkan album "Boomerang" (1994), "KO" (1995), "Disharmoni" (1996), sebuah album cover version dari band dan artis yang menjadi idola mereka, macam Leo Kristi, Gombloh, Black Brothers, The Mercy's, Duo Kribo, dan The Rollies, "Segitiga" (1998), duoble album re-master "Best Ballads" dan "Hard N Heavy" (1999), "Extravaganza" (2000), "The Great Hits" (2003), "Terapi Visi" (2004), "Urbanoustic" (2005). Namun setelah album "Urbanoustic" tersebut, didasari perbedaan prisip, Jhon Paul Ivan mengundurkan diri dari Boomerang, memilih untuk bersolo karier. Sempat hadir sebagai gitaris tamu pada band U9 dan mendirikan Supergroup JPI bersama Bondan Prakoso (mantan bassist Funky Kopral), dan Cliff (drum). Sebagai pengganti Jhon Paul Ivan, Boomerang sempat merekrut 2 gitaris, Oi dari Power Metal dan Tommy, gitaris asal Riau. Tidak puas dengan performa mereka, Boomerang merekrut salah satu gitaris handal Indonesia, Andry Franzzy pada awal 2006 yang mantan gitaris band Power Slave. Bersama Gitaris Barunya, Boomerang merilis album "suara Jalanan" (2009) dengan single hits "Aurora". "Cicak Bin Kadal" ciptaan Heydi Ibrahim, mantan vokalis Power Slave juga termuat dalam album "suara Jalanan" di mana Heydi juga menyumbangkan warna vokalnya pada lagu tersebut. Heydi Ibrahim kini lebih aktif sebagai pelukis.

Festival musik tersebut juga memberi pengaruh pada perkembangan musik rock tanah air. Banyak band-band baru bermunculan, berlomba untuk jadi yang terbaik. Peran Media juga tidak bisa dikesampingkan. Banyak grup band yang lahir, diberi warna aliran musik oleh media. Rock, Heavy Metal, Power Metal, Thrash Metal, Speed Metal, Death Metal, Grindcore, Doom, Hyperblast, Black Metal, adalah aliran-aliran tersebut. Cukup memusingkan bukan? Tapi di sisi lain kita diuntungkan dengan berbagai penamaan tersebut, karena secara tidak langsung wawasan musik akan bertambah.

Sekadar menyebut nama, Whizzkid, Voodoo, Kamikaze, Sket, Sang Alang, Sahara, Bad Apples, U' Camp, Stinky, Modern Gank, Rotor, Sucker Head, Tengkorak, Trauma, Hell Gods, Rajawali, Flower, dan band-band lain berbagai aliran musik.

Setelah kurang lebih 50 tahun, kontroversi musik rock masih terus berlangsung, tapi sekarang dengan hasil yang berbeda. Tak terasa. Musik rock sudah merasuk ke tulang sumsum indutri musik kita dan berhasil menjadi panglima.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar